No Comment

Replika Gurindam 12 di TMII - Foto: Warith


JAKARTA - Barangsiapa tiada memegang agama/ Segala-gala tiada boleh dibilang nama/ Barang siapa mengenal yang empat/ Maka yaitulah orang yang ma'rifat/ Barang siapa mengenal Allah/ Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah/ Barang siapa mengenal diri/ Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri/ Barang siapa mengenal dunia/ Tahulah ia barang yang terpedaya/ Barang siapa mengenal akhirat/ Tahulah ia dunia mudharat

Demikian bunyi pasal pertama Gurindam 12 karya Raja Ali Haji (RAH,) sekitar 1847. Gurindam 12 hanyalah satu dari sekian banyak karya laki-laki yang dilahirkan di Penyengat pada 1808 dan meninggal pada 1972 di pulau yang sama, di antaranya Tuhfat al-Nafis (sejarah), Bustan al-Katibin, Pengetahuan Bahasa (tata bahasa), Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik), serta sejumlah syair seperti Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk.

RAH yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional bersama dengan Ismail Marzuki, Ahmad Rifai, Maskoen Soemadiredja, Andi Mappanyukki, dan Gatot Mangkoepraja bertepatan dengan hari Pahlawan lalu. Gelar Pahlawan Nasional untuk RAH telah diusulkan Pemda Riau Mei lalu karena jasa-jasa beliau terhadap bahasa Melayu yang kemudian dijadikan bahasa nasional.

Jasa RAH pada bahasa Melayu terlihat pada karya-karyanya. Ialah orang Melayu pertama yang menyusun buku tata bahasa Melayu pada 1850 dalam karyanya Bustan al-Katibin. Setelah menyusun buku tata bahasa, RAH menyusun kamus bahasa Melayu yang diberi nama Kitab Pengetahuan Bahasa pada 1858. Pengetahuannya yang berlatar belakang pendidikan Arab menyebabkan tulisannya banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab, termasuk kaidah tata bahasa dalam Bustan al-Katibin dan kamus tersebut.

Selain sastrawan, RAH juga merupakan salah seorang anggota keluarga raja yang hidup di istana Pulau Penyengat. Kakeknya, Raja Haji Yang Dipertuan Riau IV (lebih dikenal dengan Raja Haji Fisabilillah) juga merupakan pahlawan Nasional yang sering memimpin peperangan melawan Belanda di Riau antara 1782?1794. Hidup di kalangan istana menjadikan RAH banyak belajar tentang politik dan dekat dengan pejabat kolonial.
Hidup sezaman dengan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi membuat ia sering dibandingkan dengan sastrawan Melayu asal Singapura tersebut, terutama hubungannya dengan bangsa kolonial. Sejumlah ahli mengatakan bahwa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi merupakan kaki tangan Inggris karena ia bekerja untuk mereka, sedangkan RAH sangat antikolonial. Jan van der Putten dan Al Azhar (1995) menyangkal hal tersebut karena RAH bersahabat dengan von de Wall, asisten Residen Riau, yang berusaha mempelajari bahasa Melayu seperti sejumlah bangsa Barat lainnya.

Ulama
Selain ahli sastra, bahasa (Arab dan Melayu), dan politik, RAH juga seorang ulama. Di Pengujan, salah satu daerah di Pulau Bintan, RAH membangun sembilan pondok sederhana untuk mengajarkan kehidupan akhirat kepada murid-muridnya yang berjumlah sekitar 60 orang.

Dalam beberapa karyanya juga ia mengkritik cara hidup beberapa ulama yang dianggapnya tidak sesuai dengan ajaran agama. Dalam Kitab Pengetahuan Bahasa ia menertawakan penyelewengan yang dilakukan seorang lebai (pegawai masjid). Ia juga menuliskan kejadian memalukan tentang pembunuhan di sebuah masjid ketika ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, Raja Ahmad, dalam Tuhfat al-Nafis. Dalam buku tersebut juga diceritakan tentang seorang ulama asal Minangkabau, Lebai Kamat, yang mengaku sebagai Tuhan.
Dalam dunia sastra, RAH berada di antara peralihan sastra Melayu klasik dan sastra modern. Ialah yang pertama kali menuliskan nama dan tarikh (tahun) pada setiap karyanya sehingga dapat ditelusuri oleh para peneliti.(str/mila novita)
 

This Post has No Comment

Posting Komentar

Posting Lama Posting Lebih Baru